Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar bin Muhammad al-Khudhairi as-Suyuthi (Imam as-Suyuthi) adalah salah satu ulama terkemuka dan paling produktif dalam sejarah Islam, khususnya pada abad ke-9 dan ke-10 Hijriah. Ia dikenal sebagai ensiklopedia berjalan karena menguasai hampir semua disiplin ilmu keislaman dan meninggalkan warisan intelektual berupa ratusan karya tulis.

Kelahiran dan Masa Kecil

  • Nama Lengkap: Abdurrahman bin Abi Bakar bin Muhammad bin Sabiquddin al-Khudhairi as-Suyuthi.

  • Kunyah (Nama Panggilan): Abu al-Fadhl.

  • Gelar: Jalaluddin (Keagungan Agama).

  • Lahir: Kairo, Mesir, pada Bulan Rajab tahun 849 H (sekitar tahun 1445 M).

  • Asal-Usul: Meskipun lahir di Kairo, ia dinisbatkan ke Asyuth (Assiut), sebuah kota di Mesir Hulu, yang menjadi asal keluarganya.

Imam as-Suyuthi terlahir dari keluarga yang berilmu. Ayahnya, Syekh Kamaluddin Abu Bakar, adalah seorang ulama bermazhab Syafi'i. Namun, as-Suyuthi sudah menjadi yatim sejak kecil, tepatnya saat ia berusia sekitar lima tahun. Ia kemudian diasuh dan dididik oleh beberapa ulama terkemuka, termasuk Syekh Kamaluddin Ibnu al-Hammâm dan Syekh Syihabuddin asy-Syârmisâhi.

Baca juga : Imam an-Nawawi

Pendidikan dan Guru-Guru

Sejak usia muda, as-Suyuthi menunjukkan kecerdasan luar biasa.

  • Pada usia tujuh tahun, ia sudah hafal Al-Qur'an.

  • Pada usia delapan tahun, ia mulai menghafal kitab-kitab induk ilmu agama, seperti Minhâj ath-Thâlibîn karya Imam Nawawi.

  • Pada usia 15 tahun, ia mulai mengajar, dan pada usia 17 tahun, ia mulai menulis karya pertamanya.

Ia belajar kepada banyak guru, baik di Kairo maupun dalam perjalanannya. Diperkirakan jumlah gurunya mencapai 600 ulama. Beberapa guru pentingnya meliputi:

  1. Syekh Kamaluddin Ibnu al-Hammâm: Guru dalam fikih dan ushul fikih.

  2. Syekh Syarafuddin al-Manâwi: Guru dalam ilmu hadis.

  3. Syekh Saifuddin al-Hanafi: Guru yang sangat dihormatinya.

Ia menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari tafsir, hadis, fikih, ushul fikih, nahwu (tata bahasa Arab), sharaf (morfologi), ma'ani, bayan, badi', sejarah, kedokteran, hingga ilmu falak.

Produktivitas dan Karya

Imam as-Suyuthi terkenal dengan produktivitasnya yang luar biasa dalam menulis. Konon, ia mampu menulis rata-rata tiga lembar setiap hari selama hidupnya.

  • Beberapa sumber menyebutkan jumlah karyanya mencapai antara 500 hingga 600 kitab, bahkan ada yang menyebutkan lebih dari 1000 judul.

  • Ia sendiri pernah mencatat jumlah karyanya yang ia klaim mencapai 300 judul dalam berbagai disiplin ilmu.

Karya-karyanya mencakup kitab-kitab monumental hingga risalah-risalah singkat. Beberapa karya terkenalnya yang menjadi rujukan hingga kini:

Karya Imam Suyuti

Bidang Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

  1. Tafsir al-Jalalain Ditulis bersama gurunya, Jalaluddin al-Mahalli (beliau menyempurnakan).
  2. Ad-Durr al-Mantsur fi at-Tafsir bil Ma'tsur.
  3. Al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an.
  4. Al-Lubāb an-Nuqul fi Asbāb an-Nuzul, Mengenai sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur'an.
  5. Asrār Tartib al-Qur'ān, Tentang rahasia dan hikmah susunan (tartib) ayat dan surat Al-Qur'an.
  6. I'rāb al-Qur'ān Tata bahasa (i'rab) dalam Al-Qur'an.
  7. Al-Mahdzab fimā Waqa'a fi al-Qur'ān min al-Mu'rab

Bidang Ilmu Hadis dan Metodologi Hadis (Musthalah Hadis)

  1. Jami' ash-Shagir
  2. Al-Jami' al-Kabir
  3. Tadrib ar-Rāwi fi Syarhi Taqrib an-Nawāwi
  4. Ad-Dibaj 'ala Shahih Muslim bin al-Hajjaj
  5. Syarh as-Suyuthi 'ala Sunan an-Nasā'i
  6. Syarh Sunan Ibnu Majah
  7. Asbāb Wurud al-Hadits
  8. Al-La'āli' al-Mashnu'ah fi al-Ahadits al-Maudhu'ah
  9. Al-Madraj ila al-Mudraj
  10. Ad-Dar al-Muntatsirah fi al-Ahadits al-Musytahirah
  11. Tuhfatu al-Abrār binakti al-Adzkār an-Nawawiyyah
  12. Tahdzir al-Khawash min Ahadits al-Qashash
  13. Syarh Alfiyah Al-Iroqi Fi Ulumil Hadits
  14. At-Tausyih Syarah Al-Jamik As-Sahih

Bidang Fikih dan Kaidah Fikih (Usul Fikih)

  1. Al-Asybah wa an-Nazhair fi Qawa’ida wa Furu’i Fiqhis Syafi’iyah (Fikih)
  2. Al-Hawi lil Fatawa

Bidang Sejarah, Biografi (Tarikh), dan Keutamaan (Fadhail)

  1. Tārikh al-Khulafā'
  2. Husnu al-Muhādharah fi Akhbār Mishr wa al-Qāhirah
  3. Thabaqāt al-Huffādz
  4. Thabaqat al-Mufassirin
  5. Durr as-Sihābah fiman dakhala Mishr min ash-Shahābah
  6. Ihya'ul Mayyit bi Fadhaili Ahlil Bait
  7. Al-Gharar fi Fadhaili 'Umar
  8. Ar-Raudh al-Aniq fi Fadhli ash-Shadiq
  9. Tazyin al-Mamālik bi Manaqib al-Imām Mālik
  10. Anmudzaj al-Labib fi Khashāis al-Habib
  11. Al-'Urf al-Wardi fi Akhbari al-Mahdi
  12. Aini al-Ishābah fi Ma'rifati ash-Shahābah
  13. Lubb al-Lubbāb fi Tahrir al-Ansāb
  14. Al-Ayah Al-Kubro Fi Syarhi Qisshotil Isro

Bidang Ilmu Bahasa Arab (Nahwu, Sharf, Balaghah, Lughah)

  1. Al-Muzhir fi Ulum al-Lughah wa Anwa'uha
  2. Al-Asybah wa an-Nazhair Fi Nahwi (Nahwu)
  3. Alfiyatu as-Suyuthi
  4. Uqudul Jimān fi 'ilmi al-Ma'āni wa al-Bayān
  5. Uqudu az-Zabarjid 'ala Musnad al-Imām Ahmad fi I'rāb al-Hadits
  6. Al-Iqtirah Fi Ushul An-Nahwi

Bidang Akidah, Tasawuf, dan Risalah Lain

  1. Al-Habaik fi Akhbar al-Malaik
  2. Tanbih al-Ghabiyy fi Tibra'ati Ibni 'Arabi
  3. Ilqām al-Hajar liman zakā sāb Abi Bakr wa 'Umar
  4. Kasyf As-Salim
  5. Irsyad al-Muhtadin ilā Nashrati al-Mujtahidin
  6. Al-Kawi 'ala Tarikh as-Sakhawi
  7. Dzam al-Makas
  8. Mā Rawāhu al-Asāthin fi 'Adami al-Maji'i ilā as-Salāthin
  9. Tamhid al-Farsy fi al-Khishāl al-Maujibah li Zhil al-'Arsy
  10. Shifatu Shāhibi adz-Dzauqi

Kehidupan dan Sikap Intelektual

Imam as-Suyuthi dikenal memiliki kepribadian yang teguh dan integritas yang tinggi.

  • Mujtahid Mutlak: Ia mencapai derajat ijtihad mutlak, yang berarti ia mampu mengambil hukum langsung dari sumber aslinya (Al-Qur'an dan Sunnah), meskipun ia tetap berpegang pada mazhab Syafi'i.

  • Menolak Harta Penguasa: Ia sering menolak hadiah atau gaji yang ditawarkan oleh sultan atau penguasa kala itu. Ia memilih hidup sederhana dan mandiri, bahkan pernah mengasingkan diri (i'tizâl) dari urusan dunia dan politik.

  • Pengasingan Diri (I'tizâl): Pada tahun 891 H, setelah merasa jenuh dengan hiruk pikuk dunia dan beberapa konflik dengan ulama lain, ia mengundurkan diri dari kegiatan mengajar dan hanya fokus pada menulis dan beribadah di rumahnya. Ia tetap mempertahankan sikap kritis terhadap penguasa dan ulama yang korup.

Wafat

Setelah mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan, Imam as-Suyuthi wafat di Kairo pada Jumat malam, 19 Jumadil Awal tahun 911 H (sekitar tahun 1505 M) dalam usia 62 tahun.

Meskipun usianya tidak terlalu panjang, warisan intelektualnya telah menjadikannya salah satu ulama yang paling berpengaruh dan rujukan utama dalam berbagai disiplin ilmu keislaman hingga hari ini. Ia adalah contoh nyata seorang ulama lintas disiplin (multitalenta) yang produktivitasnya sulit dicari tandingannya.