Bersosial

Sosial dalam islam

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَتْ وَأُوْلَبِكَ هُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (Ali Imran: 105)

Saling membutuhkan dan saling melengkapi merupakan karakter setiap manusia. Ketidakmampuan untuk mencukupi hidup dengan sendirinya adalah sebuah keniscayaan dari setiap insan yang tak terelakkan. Karena itulah, Islam yang dibawa oleh Rasul saw., manusia paling sempurna, tidak hanya sebatas mengajarkan keyakinan (akidah) dan ibadah. Eksistensinya sebagai utusan Tuhan paripurna mampu memberi ajaran betapa pentingnya ber- muamalah dengan sesama makhluk-Nya. Bukan hanya sekedar berkomunikasi, namun juga menjalin sebuah interaksi sosial yang sangat apik dan mampu dijadikan suri teladan sempurna nan indah bagi siapa pun yang mengimani-Nya.

Keberhasilan Rasulullah saw. dalam bersosial secara tidak langsung telah mampu membawa pengaruh yang sangat besar terhadap budaya dan standar sosial bangsa Arab pada waktu itu. Dengan elektabilitasnya yang terus meningkat, beliau mampu menyebarkan ajaran dakwah yang merakyat dan mudah diterima semua kalangan. Bahkan, memicu tokoh-tokoh yang dulu pernah memusuhi beliau untuk tunduk dan menjadi sahabat setianya. Contohnya, sahabat Umar Bin Khattab r.a.

Cara interaksi beliau yang santun selalu dibarengi dengan budi pekerti luhur. Mengedepankan kepentingan orang banyak daripada dirinya sendiri. Menjadi gambaran dari agama yang beliau ajarkan adalah rahmat bagi sekalian alam.

Baca juga:

Rasulullah Dalam bersosial

Dalam pergaulan, beliau telah mewariskan teladan indah bagi para pengikutnya, memberikan kesan mendalam bagi orang-orang yang pernah memusuhinya. Sehingga, tidak ada satu orang pun yang menisbatkan sifat buruk kepada beliau, kecuali hal itu adalah kebohongan yang dilatarbelakangi rasa benci dan arogan.

Dengan siapa pun, Rasulullah saw. selalu berbuat baik dan tidak mem- besarkan diri. Beliau selalu menjenguk sahabat atau tetangganya yang sedang sakit meskipun orang tersebut belum beriman kepada Nabi saw. Beliau adalah sosok yang ringan tangan. Kepada pembantunya, beliau tidak pernah memberatkan pekerjaannya. Justru bila pekerjaan tersebut bisa dikerjakan sendiri, beliau tak segan-segan untuk mengerjakannya. Sehingga, tak jarang dengan tangan mulianya, beliau membawa barang belanjaan dari pasar. Begitu juga dengan kerabatnya, beliau selalu menyambung tali silaturahim tanpa membeda-bedakan siapa pun diantara mereka.

Dalam kesehariannya, beliau selalu menebarkan senyum kepada siapa pun. Tak peduli bagaimana pun suasana hati beliau di kala itu. Beliau juga mengajarkan kepada para sahabatnya betapa pentingnya senyuman kepada sesama demi terciptanya interaksi sosial yang baik. Beliau ingin mengajarkan kepada umatnya bahwa senyum dapat dijadikan tolak ukur kecakapan seseorang dalam bersosialisasi.

Rasulullah saw. bersabda,

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ . . (رواه الترمذي)

Senyummu terhadap saudaramu merupakan sebuah nilai sedekah untukmu." (H.R. At-Tirmidzi)

Beliau juga merupakan pribadi yang sangat peduli terhadap orang lain. Cinta kasih yang beliau berikan kepada umatnya jauh melampaui kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Sikap bijak dan pemaaf yang beliau tunjukkan sudah melebihi batas kesabaran seorang manusia. Di saat beliau berusaha mendakwahkan Islam ke Kota Tha'if, beliau justru mendapatkan penolakan dan caci maki dari penduduk kota tersebut. Tidak berhenti di situ, para budak pun diperintah untuk melempari beliau dengan batu di sepanjang jalan yang beliau lalui. Darah mulia mengucur deras dari kaki dan tangan beliau. Dalam keadaan berdarah-darah dan payah seperti itu, tidak sedikit pun beliau me- nunjukkan rasa kesal dan marah. Justru kata-kata mulia meluncur dari bibir beliau saat didatangi malaikat Jibril dan malaikat penjaga gunung yang siap untuk menimpakan gunung ke penduduk Tha'if sebagai azab atas perlakuan mereka.

Malaikat yang bersama Jibril setelah mengucapkan salam berkata kepada Nabi, "Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan akhsyabain (dua gunung besar di Mekkah, yaitu gunung Abu Qubais dan gunung Al Ahmar) kepada mereka."

Rasulullah saw. menjawab, "(Tidak) justru aku berharap supaya Allah Azza Wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka, orang yang beribadah kepada Allah semata. Tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun jua."

Betapa Nabi saw. telah memberi contoh kepada umatnya untuk selalu memaafkan dan mendoakan baik terhadap siapa pun yang berbuat salah, termasuk orang yang telah menzalimi kita. Bukan justru dibalas dengan cacian dan doa-doa laknat seperti yang terjadi belakangan ini. Hal ini juga menunjukkan betapa dakwah dan sosialisasi agama yang beliau lakukan bukan didasari oleh nafsu. Namun, dasar ketakwaan dan kasih sayang terhadap sesama makhluk- lah yang menjadi pondasi kokoh beliau dalam berdakwah.

Baca juga : Prioritas dalam Nafkah

Rasulullah saw. adalah sosok yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Perbedaan agama dan latar belakang tidak pernah menjadi penghalang bagi beliau untuk menghormati mereka yang belum menerima Nabi saw. Kalau kita telisik lebih dalam, peperangan yang terjadi dengan orang-orang kafir Quraisy bukan murni didasari oleh faktor perbedaan agama, tetapi lebih didasari oleh penganiayaan dan sikap orang kafir Quraisy yang menghalangi dakwah beliau. Hal ini terbukti saat berada di Madinah, beliau justru mencetuskan Piagam Madinah yang berisi kesepakatan antara berbagai golongan dan agama di kota tersebut. Beliau mampu merangkul suku-suku sekitar Madinah meskipun belum semuanya Islam untuk saling membantu dan melindungi terhadap segala ancaman yang datang.

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Qais Bin Sa'ad r.a. dan Sahal Bin Hunaif r.a. sedang berada di Qadisiyyah. Tiba-tiba, ada iringan jenazah melewati mereka, maka seketika keduanya berdiri. Ketika dikatakan bahwa jenazah tersebut adalah orang kafir, mereka berdua menuturkan, sesungguhnya Rasulullah saw. pernah dilewati iringan jenazah dan beliau juga seketika langsung berdiri. Ketika diberi tahu bahwa jenazah itu adalah jenazah orang Yahudi, beliau berkata "Bukankah ia juga manusia?" (Sahih Muslim)

Teladan sosial yang baik juga bisa kita perhatikan dari cara beliau memuliakan tamu. Beliau tidak segan untuk memuliakan tamunya meskipun secara status sosial, beliau adalah seorang pemimpin tertinggi. Di saat Sahabat Jabir Bin Abdillah Al Bajali hadir di majelis Nabi saw., ia tidak mendapatkan tempat dan akhirnya memilih untuk duduk di dekat pintu. Mengetahui hal itu, Rasulullah mengambil baju dan melipatnya untuk kemudian diberikan kepada Jabir. "Silakan duduk di atasnya!" kata beliau.

Oleh Jabir baju tersebut diambil, diciuminya, seraya menangis dan dikembalikan kepada Nabi saw. "Semoga engkau dimuliakan oleh Allah Swt. sebagaimana engkau memuliakanku," kata Jabir.

Tatkala seorang tamu datang untuk sebuah keperluan sementara beliau sedang menunaikan salat, beliau segera meringankan salatnya untuk menemui tamu tersebut. Apabila keperluan tamu tersebut telah terpenuhi, beliau me- neruskan kembali salatnya.

Perilaku dan ucapan yang keluar dari lisan Rasulullah saw selalu me- nentramkan hati orang-orang yang mendengarnya. Tidak pernah sekali pun beliau mengecewakan orang-orang di sekitarnya. Diriwayatkan, suatu ketika ada seorang lelaki fakir dari ahli suffah mendatangi Rasulullah dengan membawa sebuah cawan berisi anggur, untuk dihadiahkan kepada Rasulullah saw.

Rasulullah mengambil cawan itu dan kemudian mulai memakannya. Rasulullah memakan anggur pertama, kemudian beliau tersenyum. Rasulullah memakan buah anggur kedua, beliau pun tersenyum lagi. Perasaan lelaki fakir tersebut serasa hampir terbang karena saking gembiranya. Sementara itu, para sahabat menunggu sebab sudah merupakan kebiasaan Rasulullah selalu mengajak para sahabat bergabung bersama Rasulullah untuk ikut menikmati dalam setiap hadiah yang diberikan kepada beliau.

Terkait : 7 Kaidah utama fikih muamalat DR. Yusuf Qardhawi

Rasulullah memakan anggur satu persatu sambil tersenyum sampai habis buah anggur yang ada dalam cawan itu. Para Sahabat memandangnya keheranan. Si lelaki fakir tersebut gembira ria dengan perasaan tak terhingga karena anggurnya sudah habis dimakan oleh Rasulullah. Kemudian, ia pergi dengan muka berseri-seri.

Lalu, bertanyalah salah seorang sahabat, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak mengajak kami bergabung makan bersamamu?"

Rasulullah saw tersenyum, lalu menjawab, "Sungguh kalian telah melihat saudara kita tadi sangat kegirangan dengan cawan yang berisi buah anggur itu. Sesungguhnya, ketika aku mencicipi buah anggur tersebut, aku rasakan pahit masam rasanya. Jadi, aku tidak mengajak kalian untuk makan bersama sebab aku khawatir nanti kalian akan menampakkan rasa pahit kecewa di wajah kalian, sehingga dapat merusak kegembiraan lelaki tersebut."

Spontan para sahabat berucap,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

"Sesungguhnya, engkau benar-benar memiliki budi pekerti yang mulia."

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url