Meneladani Imam Syafi’i: Cara Gen Z Jaga Diri dari Maksiat & Tetap Waras di Dunia Serba Distraksi
Di era sekarang—scrolling nggak ada habisnya, godaan di mana-mana, dan notifikasi lebih rame dari pasar malam—menjaga iman itu bukan cuma penting, tapi urgent. Hati gampang berubah, iman gampang naik turun, dan kalau nggak sadar-sadar, bisa kebablasan tanpa terasa.
Salah satu cara paling efektif buat stay on track adalah menahan diri dari maksiat, alias nggak asal ikut kemauan nafsu. Ini bukan cuma “jangan ini-jangan itu”, tapi lebih ke menjaga hati biar nggak tumpul dan menjaga jiwa biar tetap peka.
Allah sudah ngasih warning sekaligus janji yang super jelas dalam QS An-Nazi’at ayat 40–41:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
“Adapun orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka surgalah tempat tinggalnya.”
Menurut Syekh Syihabuddin al-Alusi, ayat ini tuh vibes-nya begini:
Ada orang yang hampir terjerumus maksiat, tapi tiba-tiba teringat, “Eh, nanti gue dihisab loh sama Allah.”
Rasa takut itu bikin dia mundur dan batalin niat buruk tadi.
Beliau menggambarkan:
أَنَّهُ الرَّجُلُ يَهُمُّ بِالْمَعْصِيَةِ، فَيَذْكُرُ مَقَامَهُ لِلْحِسَابِ بَيْنَ يَدَيْ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ، فَيَخَافُ فَيَتْرُكُهَا
“Seseorang yang bermaksud melakukan maksiat, lalu ia ingat kedudukannya kelak di hadapan Allah, maka ia pun takut dan meninggalkannya.”
Deep banget, kan? Ini bukan cuma takut dihukum, tapi sadar bahwa hidup itu ada pertanggungjawabannya.
Belajar dari Imam Syafi’i: Hafalan Lemah Gara-Gara Lihat Sesuatu yang Haram
Gen Z sering bilang: “Mental health penting!”
Betul. Tapi, heart health juga nggak kalah penting.
Salah satu role model yang layak di-follow adalah Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. Beliau bukan cuma jago fiqih, tapi juga super menjaga pandangan dan kebersihan hati.
Ada satu kisah terkenal banget:
Suatu hari, Imam Syafi’i ngerasa hafalannya menurun. Padahal biasanya, beliau tuh kayak “walking Google”—sekali lihat langsung hafal. Kerasa aneh, akhirnya beliau curhat ke gurunya, Syekh Waki’.
Jawaban gurunya simple tapi nusuk:
“Hafalanmu melemah karena maksiat.”
Awalnya Imam Syafi’i bingung, karena beliau merasa tidak melakukan maksiat. Tapi setelah dipikir lagi, ternyata pernah tidak sengaja melihat kaki perempuan yang bukan mahramnya. Sekilas doang, tapi efeknya besar. Dari kejadian itu, Imam Syafi’i menulis syair yang sampai sekarang sering dikutip ulama:
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوْءَ حِفْظِي ** فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ ** وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي
“Aku mengeluh pada Waki’ tentang buruknya hafalanku,
Lalu ia menasihatiku untuk meninggalkan maksiat.
Ia berkata, ilmu itu cahaya,
Dan cahaya Allah takkan diberikan kepada pelaku maksiat.”
Bayangin. Hanya karena pandangan sekilas, beliau langsung merasa efeknya ke hafalan. Kita? Yang tiap hari lihat timeline random, konten toxic, drama, gosip, dan hal-hal nggak perlu? Kebayang kan kenapa hati sering kerasa berat dan pikiran kurang fokus.
Apa Pelajaran Untuk Kita—Anak Muda Hari Ini?
1. Maksiat itu merusak “signal hati”
Iman itu kayak jaringan WiFi. Sedikit saja “noise”, langsung nge-lag. Maksiat bikin hati makin nggak peka sama dosa dan makin kebal terhadap nasihat.
2. Menahan diri = bentuk self-respect
Bukan soal takut, tapi soal menghargai diri sendiri. Kamu berharga, dan dirimu terlalu penting untuk dirusak oleh nafsu sesaat.
3. Lihat yang haram? Scroll cepat!
Gen Z itu cepat adaptasi. Kalau konten nggak sehat muncul, langsung swipe away. Imam Syafi’i saja merasa efeknya sangat besar, apalagi kita.
4. Ingat: hidup bukan cuma hari ini
“Mengingat hari hisab” bukan berarti hidup jadi muram, tapi bikin kita punya arah. Kayak main game: kamu main lebih serius kalau tahu ada boss battle besar di akhir.
5. Ketakwaan itu dibangun dari kebiasaan kecil
Bukan harus langsung sempurna. Tapi start small. Bismillah yang penting konsisten.
Doa dan Harapan
Semoga Allah selalu menjaga pandangan kita, membersihkan hati kita, dan membuat kita jadi hamba yang senantiasa takut kepada-Nya—baik saat sendirian maupun saat ramai-ramai. Amin.
Meneladani Imam Syafi’i bukan berarti harus jadi ulama besar dulu. Mulai saja dari hal-hal kecil: jaga pandangan, jaga hati, jaga langkah. Karena sesuatu yang kecil tapi dijaga, bisa jadi besar di sisi Allah.

0Komentar