Bab 15 : Peradilan dan Persaksian - Terjemah Ghoyah wa Taqrib


كِتَابُ الْأَقْضِيَّةِ وَالشَّهَادَاتِ 

Peradilan dan Persaksian

وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَى الْقَضَاءَ إِلَّا مَن اسْتَكْمَلَتْ فِيهِ خَمْسَ عَشْرَةَ خَصْلَةٌ : الْإِسْلَامُ وَالْبُلُوغ وَالْعَقْلُ وَالحَرَيَّةُ وَالدُّكُورَةُ وَالْعَدَالَهُ وَمَعْرِفَةُ أَحْكامِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَمَعْرِفَةُ الْإِجْمَاعِ وَمَعْرِفَةٌ الْاخْتِلَافِ وَمَعْرِفَةُ طُرُقِ الْإِجْتِهَادِ وَمَعْرِفَةُ طُرُوْفٍ مِنْ لِسَانِ الْعَرَبِ وَمَعْرِفَةُ تَفْسِيرِ كِتَابٍ اللهِ تَعَالَى وَأَنْ يَكُوْنَ سَمِيعًا وَأَنْ يَكُوْنَ بَصِيرًا وَأَنْ يَكُوْنَ كَاتِبًا وَأَنْ يَكُوْنَ مُسْتَيْقِظًا. وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَجْلِسَ فِي وَسَطِ الْبَلَدِ فِي مَوْضِعِ بَارِزِ لِلنَّاسِ وَلَا حِجَابَ لَهُ، وَلَا يَعْقُدُ لِلْقَضَاءِ فِي الْمَسْجِدِ. وَيُسَوِيْ بَيْنَ الْخَصْمَيْنِ فِي ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ : فِي الْمَجْلِسِ وَاللَّفْظِ وَاللَّحَظِ

Tidak boleh menjadi hakim selain orang yang memenuhi lima belas hal berikut :
  1. Islam.
  2. Baligh.
  3. Berakal sehat.
  4. Merdeka.
  5. Laki-laki.
  6. Adil.
  7. Mengerti hukum-hukum al Qur'an dan sunah (hadits).
  8. Mengerti ijma'.
  9. Mengerti perbedaan pendapat ulama.
  10. Mengerti cara berijtihad.
  11. Mengerti segi-segi bahasa Arab dan tafsir al Qur'an.
  12. Sehat pendengaran.
  13. Sehat penglihatan.
  14. Dapat menulis.
  15. Kuat ingatan.

Seorang hakim disunahkan berada di tengah-tengah daerah yang mudah ditemukan oleh masyarakat, dan tidak ada penghalang (sekira orang mudah mengadu kepadanya) dan tidak diperbolehkan mengadili di dalam masjid dan harus mempersamakan dua orang yang berseteru dalam tiga perkara, yaitu:

  1. Tempat duduk
  2. Kata-kata.
  3. Pandangan.

Larangan bagi Hakim

وَلَا يَجُوْزُ أَنْ يَقْبَلَ الْهَدِيَّةَ مِنْ أَهْلِ عَمَلِهِ. وَيَجْتَنِبُ الْقَضَاءَ فِي عَشَرَةِ مَوَاضِعَ : عِنْدَ الْغَضَبِ وَالْجُوعِ وَالْعَطَشِ وَشِدَّةِ الشَّهْوَةِ وَالْحَزَنِ وَالْفَرَحِ الْمُفْرِطِ وَعِنْدَ الْمَرَضِ وَمُدَافَعَةِ الْأَخْبَتَيْنِ وَعِنْدَ النُّعَاسِ وَشِدَّةِ الْحَرِ وَالْبَرَدِ. وَلَا يَسْأَلُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ إِلَّا بَعْدَ كَمَالِ الدَّعْوَى وَلَا يُحَلِفُهُ إِلَّا بَعْدَ سُؤَالِ الْمُدَّعِي وَلَا يُلَقِنُ خَصْمًا حُجَّةً وَلَا يُفَهِمُهُ كَلَامًا وَلَا يَتَعَنَّتُ بِالشُّهَدَاءِ وَلَا يَقْبَلُ الشَّهَادَةَ إِلَّا مِمَّنْ ثَبَتَتْ عَدَالَتْهُ وَلَا يَقْبَلُ شَهَادَةَ عَدُةٍ عَلَى عَدُوّهِ وَلَا شَهَادَةَ وَالِدٍ لِوَلَدِهِ وَلَا وَلَدٍ لِوَالِدِهِ وَلَا يُقْبَلُ كِتَابُ قَاضٍ إِلَى قَاضٍ آخَرَ فِي الْأَحْكَامِ إِلَّا بَعْدَ شَهَادَةِ شَاهِدَيْنِ يَشْهَدَانِ بِمَا فِيْهِ

Hakim tidak diperbolehkan menerima hadiah dari masyarakat yang menjadi daerah tugas sang hakim. Seorang hakim hendaknya tidak mengadili perkara dalam sepuluh keadaan, yaitu :
  1. Ketika marah.
  2. Ketika lapar.
  3. Ketika haus.
  4. Ketika sangat bernafsu (syahwat).
  5. Ketika susah yang melampui batas.
  6. Ketika dalam keadaan senang yang melampui batas.
  7. Ketika sakit.
  8. Ketika menahan kencing dan berak.
  9. Ketika mengantuk.
  10. Ketika udara sangat panas atau dingin.

Perkara-perkara yang dilarang bagi hakim adalah :

  1. Bertanya kepada terdakwa kecuali setelah disampaikannya dakwaan secara sempurna.
  2. Menyumpah terdakwa kecuali setelah diminta oleh pendakwa untuk menyumpahnya.
  3. Mengajarkan alasan kepada salah satu orang yang berperkara.
  4. Memberikan pemahaman kepadanya dengan perkataan.
  5. Mempersulit para saksi.
  6. Menerima kesaksian kecuali dari orang yang telah tetap keadilannya.
  7. Menerima persaksian seorang musuh atas musuhnya.
  8. Menerima persaksian seorang ayah untuk anaknya atau sebaliknya. 

Surat hakim tidak boleh diterimakan pada hakim lain dalam hal hukum, kecuali setelah ada persaksian dari dua orang saksi yang menyaksikan isi surat tersebut.

Pasal Pembagi Harta

(فَصْلٌ) وَيَفْتَقِرُّ الْقَاسِمُ إِلَى سَبْع شَرَائِط : الْإِسْلَامُ وَالْبُلُوعُ وَالْعَقْلُ وَالحَرِيَّةُ وَالذَّكَوْرَةُ وَالْعَدَالَةُ وَالْحِسَابُ. فَإِنْ تَرَاضَى الشَّرِيْكَانِ بِمَنْ يَقْسِمُ بَيْنَهُمَا لَمْ يَفْتَقِرَّ إِلَى ذَلِكَ، وَإِنْ كَانَ فِي الْقِسْمَةِ تَقْوِيْمُ لَمْ يُقْتَصَرْ فِيْهِ عَلَى أَقَلِ مِنِ اثْنَيْنِ. وَإِذَا دَعَا أَحَدُ الشَّرِيْكَيْنِ لِشَرِيْكِهِ إِلَى قِسْمِةِ مَا لَا ضَرَرَ فِيْهِ لَزِمَ الْآخَرَ إِجَابَتُهُ

Pembagi (yang diangkat oleh hakim untuk membagi hak-hak para persero/syarikaini atau yang lebih dikenal dengan sebutan pemilik saham) harus memenuhi tujuh syarat, yaitu : 1. Islam. 2. Baligh. 3. Berakal sehat. 4. Merdeka. 5. Laki-laki. 6. Mengerti ilmu berhitung. Apabila kedua persero sepakat rela pada orang yang membagi diantara keduanya, maka syarat-syarat diatas tidak diperlukan. Apabila pembagian dengan cara menguangkan (mengkalkulasi nilai harga barang) maka pembagian tidak cukup hanya dilakukan oleh dua orang. Apabila salah satu persero mengajak kawan perseronya untuk membagi hak-hak yang tidak mengandung bahaya, maka kawan persero yang lain harus menerimanya.

Pasal Dakwaan

(فَصْلُّ) وَإِذَا كَانَ مَعَ الْمُدَّعِي بَيِّنَةُ سَمِعَهَا الْحَاكِمُ وَحَكَمَ لَهُ بِهَا، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ بَيِّنَةٌ فَالْقَوْلُ قَوْلُ الْمُدَّعَى عَلَيْهِ بِيَمِيْنِهِ، فَإِنْ نَكَلَ عَنِ الْيَمِيْنِ رُدَّتْ عَلَى الْمُدَّعِي فَيَحْلِفُ وَيَسْتَحِقُ. وَإِذَا تَدَاعَيَا شَيْئًا فِي يَدِ أَحَدِهِمَا فَالْقَوْلُ قَوْلُ صَاحِبِ الْيَدِ بِيَمِيْنِهِ، وَإِنْ كَانَ فِي يَدَيْهِمَا تُخَالَفَا وَجُعِلَ بَيْنَهُمَا. وَمَنْ حَلَفَ عَلَى فِعْلِ نَفْسِهِ حَلَفَ عَلَى الْبَتِ وَالْقَطْعِ، وَمَنْ حَلَفَ عَلَى فِعْلِ غَيْرِهِ فَإِنْ كَانَ إِثْبَاتًا حَلَفَ عَلَى الْبَتِ وَالْقَطْعِ، وَإِنْ كَانَ نَفْيًا حَلَفَ عَلَى نَفْيِ الْعِلْمِ.

Apabila pendakwa memiliki bukti, maka hakim harus mendengarkan dan memberikan putusan padanya dengan bukti tersebut. Akan tetapi apabila pendakwa tidak memiliki bukti, maka perkataan yang dibenarkan adalah perkataan terdakwa dengan sumpahnya. Apabila ia menolak disumpah, maka pengucapan sumpah dikembalikan kepada pendakwa sumpah harus dilakukan oleh pendakwa, dan ia berhak dibenarkan dakwaannya dengan sumpahnya. 

Apabila ada dua orang mengaku memiliki benda yang berada di tangan salah seorang dari keduanya, maka perkataan yang dibenarkan adalah perkataan orang yang menguasai benda tersebut namun apabila benda tersebut berada di tangan keduanya, maka keduanya harus disumpah dan benda tersebut harus dibagi diantara mereka.

Seseorang yang bersumpah atas perbuatan sendiri (baik mengakui atau mengingkari), maka ia harus menetapkannya dan memastikannya, (seperti: "Demi Allah aku tidak melakukan demikian atau demi Allah aku berbuat demikian). Dan barang siapa bersumpah atas perbuatan orang lain, apabila tujuannya adalah untuk menetapkannya, maka ia harus bersumpah menetapkan atau memastikannya. Apabila mengingkarinya ia harus bersumpah meniadakan pengetahuannya.

Pasal Persaksian

(فَصْلُ) وَلَا تُقْبَلُ الشَّهَادَةُ إِلَّا مِمَّنِ اجْتَمَعَتْ فِيْهِ خَمْسُ خِصَالٍ : الْإِسْلَامُ وَالْبُلُوغُ وَالْعَقْلُ وَالْجُرَّيَّةُ وَالْعَدَالَةُ. وَلِلْعَدَالَةِ خَمْسُ شَرَائِطَ : أَنْ يَكُوْنَ مُجْتَنِبًا لِلْكَبَائِرِ، غَيْرَ مُصِرٍ عَلَى الْقَلِيْلِ مِنَ الصَّغَائِرِ، سَلِيْمَ السَّرِيرَةِ، مَأْمُوْنَ الْغَضَبِ، مُحَافِظًا عَلَى مُرُوْءَةِ مِثْلِهِ.

Persaksian tidak dapat diterima kecuali dari orang yang memenuhi lima hal berikut, yaitu :

  1. Islam.
  2. Baligh.
  3. Berakal sehat.
  4. Merdeka.
  5. Adil.

Adil harus memenuhi lima syarat, yaitu:

  1. Menjauhi dosa-dosa besar.
  2. Tidak menetapi dosa-dosa kecil.
  3. Selamat aqidahnya.
  4. Tidak mudah marah.
  5. Menjaga muru'ah perilaku sesamanya (orang-orang yang sederajat dengannya).

Pasal Macam-macam Hak

(فَصْلُ) وَالْحُقُوْقُ ضَرْبَانِ حَقُّ اللَّهِ تَعَالَى وَحَقُّ الْآدَمِي، فَأَمَّا حُقُوْقُ الْآدَمِيْنَ فَثَلَاثَةُ أَضْرُبٍ : ضَرْبُ لَا يُقْبَلُ فِيْهِ إِلَّا شَاهِدَانِ ذَكَرَانِ وَهُوَ مَا لَا يُقْصَدُ مِنْهُ الْمَالُ وَيَطَّلِعُ عَلَيْهِ الرِّجَالُ، وَضَرْبٌ يُقْبَلُ فِيْهِ شَاهِدَانِ أَوْ رَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ أَوْ شَاهِدٌ وَيَمِيْنُ الْمُدَّعِي وَهُوَ مَا كَانَ الْقَصْدُ مِنْهُ الْمَالَ، وَضَرْبٌ يُقْبَلُ فِيْهِ رَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ أَوْ أَرْبَعُ نِسْوَةٍ وَهُوَ مَا لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ الرِّجَالُ. وَأَمَّا حُقُوْقُ اللَّهِ تَعَالَى فَلَا تُقْبَلُ فِيْهَا النِّسَاءُ وَهِيَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَضْرُبٍ ضَرْبُ لَا يُقْبَلُ فِيْهِ أَقَلَّ مِنْ أَرْبَعَةٍ وَهُوَ الزِّنَا، وَضَرْبٌ يُقْبَلُ فِيْهِ اثْنَانِ وَهُوَ مَا سِوَى الزِنَا مِنَ الْحُدُوْدِ، وَضَرْبُ يُقْبَلُ فِيْهِ وَاحِدٌ وَهُوَ هِلَالُ رَمَضَانَ. وَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ الْأَعْمَى إِلَّا فِي خَمْسَةِ مَوَاضِعَ : الْمَوْتِ، وَالنَّسَبِ، وَالْمِلْكِ الْمُطْلَقِ، وَالتَّرْجَمَةِ، وَمَا شَهِدَ بِهِ قَبْلَ الْعَمَى وَعَلَى الْمَضْبُوْطِ. وَلَا تُقْبَلُ شَهَادَةُ جَارٍ لِنَفْسِهِ نَفْعًا وَلَا دَافِعِ عَنْهَا ضَرَرًا.

Hak itu ada dua macam, yaitu hak yang terkait dengan Allah dan hak yang berkaitan dengan manusia.

Adapun hak yang berkaitan dengan manusia ada tiga macam, yaitu :

  1. Hak yang tidak diterima kecuali dengan adanya dua orang saksi laki-laki, yaitu berupa hak yang maksudnya bukan harta benda serta datang dari orang laki-laki (seperti nikah dan talak).
  2. Hak yang diterima dengan adanya dua orang saksi laki-laki atau seorang saksi laki-laki dengan dua orang saksi perempuan atau seorang saksi laki-laki beserta sumpah pendakwa. Yaitu hak yang berupa harta benda.
  3. Hak yang dapat diterima dengan adanya seorang saksi laki-laki beserta dua orang saksi perempuan atau hanya dengan empat orang saksi perempuan. Yaitu hak yang tidak muncul dari orang laki-laki (seperti melahirkan atau haid).

Adapun hak-hak Allah, maka persaksiannya orang perempuan tidak dapat diterima. Dan hak-hak tersebut dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

  1. Tidak diterima didalamnya saksi yang kurang dari empat orang laki-laki, yaitu zina.
  2. Diterima di dalamnya dua orang saksi laki-laki, yaitu had-had selain zina.
  3. Diterima di dalamnya satu orang saksi, yaitu kesaksian tanggal satu bulan Ramadlan.

Kesaksian orang buta tidak dapat diterima kecuali dalam lima hal, yaitu :

  1. Kematian.
  2. Nasab.
  3. Kepemilikan yang mutlak.
  4. Terjemahan.
  5. Apa saja yang disaksikannya sebelum ia buta dan persaksiannya itu juga dapat diterima terhadap orang yang ditangkapnya. (seperti ada orang yang mengaku mentalak istrinya ditelinga orang buta, kemudian orang itu memeganginya dan menjadi saksi atasnya).

Sedangkan persaksian seseorang yang bermanfaat bagi dirinya sendiri atau menolak bahaya untuk diri sendiri, tidak dapat diterima.

Baca juga : Bab 16 Pembebasan Budak

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url