Bab 16 : Pembebasan Budak - Terjemah Ghoyah wa Taqrib


 كِتَابُ العِتْقِ

Pembebasan Budak

وَيَصِحُ الْعِتْقُ مِنْ كُلِّ مَالِكِ جَائِزِ الْأَمْرِ فِي مِلْكِهِ وَيَقَعُ الْعِتْقُ بِصَرِيحِ الْعِتْقِ وَالْكِنَايَةِ مَعَ النَّيَّةِ. وَإِذَا أَعْتَقَ بَعْضَ عَبْدٍ عَتَقَ عَلَيْهِ جَمِيْعُهُ، وَإِنْ أَعْتَقَ شِركًا لَهُ فِي عَبْدٍ وَهُوَ مُوْسِر سَرَى الْعِتْقُ إِلَى بَاقِيْهِ وَكَانَ عَلَيْهِ قِيْمَةُ نَصِيْبِ شَرِيْكِهِ، وَمَنْ مَلَكَ وَاحِدًا مِنْ وَالِدَيْهِ أَوْ مَوْلُوْدٍ بِهِ عَتَقَ عَلَيْهِ.

Pembebasan budak sah dilakukan oleh orang yang sah kepemilikannya. Pembebasan menjadi sah dengan menggunakan kata pembebasan yang jelas (sharih) atau dengan kata sindiran (kinayah) yang disertai dengan niat.

Apabila seseorang memerdekakan sebagian dari diri budak, maka seluruh diri budak menjadi merdeka. Apabila seseorang memerdekakan bagian yang dimilikinya dari seorang budak (yang dimiliki oleh dua orang atau lebih) sedangkan ia adalah orang yang kaya, maka pembebasan itu berlaku pula pada sisa diri budak, dan ia wajib mengganti harga bagian diri budak yang dimiliki oleh perseronya.

Barang siapa yang memiliki budak yang berupa salah satu kedua orang tuanya atau anak-anaknya, maka budak menjadi merdeka karena dia memiliki mereka.

Pasal  Wala'

( فَصْلٌ) وَالْوَلَاهُ مِنْ حُقُوقِ الْعِتْقِ، وَحُكْمُهُ حُكْمُ التعصيب عِنْدَ عَدَمِهِ، وَيَنْتَقِلُ الْوَلَاءُ عَنِ الْمُعْتِقِ إِلَى الدُّكَوْرِ مِنْ عَصَبَتِهِ، وَتَرْتِيْبُ الْعَصَابَاتِ فِي الْوَلَاءِ كَتَرْتِيْبِهِنَّ فِي الْإِرْثِ، وَلَا يَجُوزُ بَيْعُ الْوَلَاءِ وَلَا هِبْتُهُ 

Wala' merupakan hak-hak (faidah dan buah) bagi orang yang memerdekakan budaknya, dan hukumnya sama dengan ashabah nasab ketika ashabah nasab tidak ada. Wala' berpindah dari orang yang memerdekannya (mu'tiq) kepada golongan laki-laki dari ashabahnya. 

Urutan-urutan ashabah dalam wala' adalah seperti urutan ashabah dalam ilmu waris. Menjual dan menghibahkan wala' tidak diperbolehkan.

Pasal Mudabbar

(فَصْلُ) وَمَنْ قَالَ لِعَبْدِهِ " إِذَا مُتُّ فَأَنْتَ حُرٌّ " فَهُوَ مُدَبَّرُ يُعْتَقُ بَعْدَ وَفَاتِهِ مِنْ ثُلُثِهِ، وَيَجُوْزُ لَهُ أَنْ يَبِيْعَهُ فِي حَالِ حَيَاتِهِ وَيَبْطُلُ تَدْبِيْرُهُ، وَحُكْمُ الْمُدَبَّرِ فِي حَالِ حَيَاةِ السَّيِّدِ حُكْمُ الْعَبْدِ الْقِنِ

Seseorang yang berkata kepada budaknya, “Jika aku meninggal dunia, engkau merdeka“, maka budak tersebut adalah budak mudabbar yang baru akan merdeka setelah tuannya meninggal dunia dan ia juga termasuk dari sepertiga harta tuannya. Tuannya boleh menjual budak tersebut ketika ia masih hidup, dengan demikian pemberian kemerdekaannya menjadi batal.

Hukum budak mudabbar ketika tuannya masih hidup sama seperti hukum budak biasa.

Pasal

(فَصْلُ) وَالْكِتَابَةُ مُسْتَحَبَّةُ إِذَا سَأَلَهَا الْعَبْدُ وَكَانَ مَأْمُوْنًا مُكْتَسِبًا، وَلَا تَصِحُ إِلَّا بِمَالٍ مَعْلُوْمٍ وَيَكُوْنُ مُؤَجَّلاً إِلَى أَجَلٍ مَعْلُوْمٍ أَقَلُهُ نَجْمَانِ وَهِيَ مِنْ جِهَةِ السَّيِّدِ لَازِمَةُ، وَمِنْ جِهَةِ الْمُكَاتَبِ جَائِزَةٌ، فَلَهُ فَسْخُهَا مَتَى شَاءَ، وَلِلْمُكَاتَبِ التَّصَرُّفُ فِيْمَا فِي يَدِهِ مِنَ الْمَالِ. وَيَجِبُ عَلَى السَّيِّدِ أَنْ يَضَعَ عَنْهُ مِنْ مَالِ الْكِتَابَةِ مَا يَسْتَعِيْنُ بِهِ عَلَى أَدَاءِ نُجُوْمِ الْكِتَابَةِ وَلَا يُعْتَقُ إِلَّا بِأَدَاءِ جَمِيعِ الْمَالِ.

Kitaba (permohonan budak untuk mengkredit kemerdekaannya dengan dua kali angsuran atau lebih dalam jangka waktu tertentu) disunahkan ketika budak itu telah memintanya, dan budak tersebut adalah budak yang dapat dipercaya dan mampu bekerja.

Kitabah tidak sah kecuali dengan harta yang telah ditentukan dan pembayarannya secara bertahap dalam tempo waktu yang telah diketahui, paling sedikit dua kali angsuran. 

Kitabah dari pihak tuan itu hukumnya tetap (tidak dapat dibatalkan) sedangkan dari pihak budak yang diberi kitabah itu tidak tetap, maka bagi budak diperbolehkan membatalkan kitabah kapan saja. 

Budak mukatab berhak mempergunakan harta yang dimilikinya. Diwajibkan bagi sayyid menurunkan harta kitabah yang diterima dari budaknya sebagai pertolongan untuk memenuhi angsuran kitabah, dan budak mukatab tidak merdeka kecuali sesudah memenuhi seluruh harta kitabah.43 433

Pasal Ummul Walad

(فَصْلُ) وَإِذَا أَصَابَ السَّيِّدُ أَمَتَهُ فَوَضَعَتْ مَا تَبَيَّنَ فِيهِ شَيْءٌ مِنْ خَلْقٍ أَدَبِي حَرُمَ عَلَيْهِ بَيْعُهَا وَرَهْتُهَا وَهِيَّتُهَا، وَجَازَ لَهُ التَّصَرُّفُ فِيهَا بِالْاِسْتِخْدَامِ وَالْوَظء. وَإِذَا مَاتَ السَّيِّدُ عَتَقَتْ مِنْ رَأْسِ مَالِهِ قَبْلَ الدُّيُوْنِ وَالْوَصَايَا. وَوَلَدُهَا مِنْ غَيْرِهِ بِمَنْزِلَتِهَا. وَمَنْ أَصَابَ أَمَةَ غَيْرِهِ بِنِكَاحٍ فَوَلَدَهُ مِنْهَا مَمْلُوكُ لِسَيِّدِهَا وَإِنْ أَصَابَهَا بِشُبْهَةٍ فَوَلَدُهُ مِنْهَا حُرٌّ وَعَلَيْهِ قِيْمَتُهُ لِلسَّيِّدِ. وَإِنْ مَلَكَ الْأَمَةَ بَعْدَ ذَلِكَ لَمْ تَصِرْ أُمَّ وَلَدٍ لَهُ بِالْوَطْء في النكاح وَصَارَتْ أُمَّ وَلَدٍ لَهُ بِالْوَطْء بِالشُّبْهَةِ عَلَى أَحَدِ الْقَوْلَيْنِ ،

وَاللهُ أَعْلَمُ .

Apabila sayyid mengumpuli budak perempuannya, lalu budak perempuan itu melahirkan sesuatu yang jelas sebagai anak adam, maka haram bagi tuannya menjual, menggadaikan dan menghibahkannya. Dan tuan tersebut boleh menggunakannya sebagai pelayan dan menggaulinya.

Apabila tuan tersebut meninggal, maka budak perempuan tersebut merdeka dari harta tuannya sebelum pelunasan hutang- hutang dan pelaksanaan wasiat-wasiat sayyidnya. Anak budak yang diperoleh bukan dari tuannya itu kedudukannya sama dengan ibunya.

Seseorang yang mengumpuli budak perempuan orang lain dengan jalan nikah, maka anak dari budak tersebut menjadi milik tuan budak perempuan itu. Apabila mengumpulinya dengan wathi syubhat maka anak dari budak perempuan itu adalah merdeka dan orang yang mengumpulinya tadi wajib membayar harga anak itu kepada tuan dari budak perempuan itu.

Apabila orang yang mengumpulinya memiliki budak perempuan yang ia cerai sesudah dikumpulinya, maka budak perempuan tersebut tidak menjadi ummul walad baginya dengan persetubuhan dalam nikah. Akan tetapi ia dapat menjadi ummul walad baginya dengan persetubuhan syubhat menurut salah satu dari dua pendapat madzhab Imam Syafi'i.

Baca juga :
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url