Bercumbu pada Siang Hari saat Puasa Ramadhan

Bercumbu pada Siang Hari saat Puasa Ramadhan

Hukum Bercumbu pada Siang Hari saat Puasa Ramadhan

Deskripsi Masalah

Bagi mereka yang baru menikah tentunya semangat tempurnya menggebu-gebu. Baik siang ataupun malam tidak ada bedanya. Asalkan masih kuat, gas siap ditancap. Lain halnya ketika memasuki bulan Ramadlan. Disiang harinya mereka harus bersabar menahan kebutuhan biologisnya. Sebut saja si Fulan yang baru menikah, saat bulan puasa ia tidak kuat menahan Hasrat biologisnya saat siang hari. Karena ia tau bahwa melakukan hubungan suami istri di siang hari membatalkan puasa dan menyebabkan kafarat, maka ia memutuskan untuk bercumbu dengan istrinya tanpa melakukan hubungan suami istri, ia meminta kepada istrinya untuk berciuman dan melakukan hal-hal cumbuan lainnya, istrinya tidak bisa menolak karena ia beranggapan menolak ajakan suami untuk bercumbu berdosa.

Pertanyaan

Bagaimana hukum bercumbu tanpa berjima’ di siang hari pada bulan Ramadhan sebagaimana yang dilakukan oleh si Fulan dengan istrinya?

Jawaban

Tidak membatalkan puasa selagi tidak inzal (mengeluarkan mani), akan tetapi hukumnya makruh tahrim bahkan ada pendapat yang mengatakan haram jika melakukannya dengan syahwat dikarenakan pada bulan puasa disamping kita menahan lapar dan haus juga disunnahkan untuk tarkul syahwat (meninggalkan perkara yang menimbulkan syahwat)

Baca juga : Puasa Sunnah dan Puasa Qadha Ramadhan secara Bersamaan

Refrensi

Kitab Al-Iqna Juz 1 Hal. 475

الاقناع في حل ألفاظ أبي شجاع ج 1 ص 475 

(و) الْخَامِس (الْإِنْزَال) وَلَو قَطْرَة عَن مُبَاشِرَة) بِنَحْوِ لمس كقبلة بلا حَائِل لأَنَّهُ يفطر بالإيلاج بِغَيْرِ إِنْزَالَ فَبِالإِنزال مع نوع شَهْوَة أولى بِخِلَاف مَا لَو كَانَ بِحَائِل أو نظر أو فكر ولو بِشَهْوَة لِأَنَّهُ إِنْزَالَ بِغَيْرِ مُبَاشِرَة كالاحتلام وحرم نخو لمس كقبلة إن حركت شَهْوَة خوف الْإِنْزَالَ وَإِلَّا فَتَرِكه أولى

Kelima keluarnya mani sebab bersentuhan walaupun hanya setetes seperti contoh mencium tanpa adanya penghalang karna hal itu bisa membatalkan puasa sebab memasukkan (penis) tanpa keluar mani. 

Hasyiyah Qulyubi juz 2, hal. 75

حاشية قليوبي ج 2 ص 75

وَاعْتَمَدَهُ شَيْخُنَا تَبَعًا لِشَيْخِنَا الرَّمْلِي قَالَ: وَالْفِكْرُ كَالنَّظَر فِي ذلِكَ. قَوْلُهُ: لِمَا لَا يَخْفى) وَهُوَ أَنَّ الْمَاضِيَ يُفِيدُ وُجُودَ التَّحَرُّكِ عِنْدَمَا ذُكِرَ بِخِلَافِ الْمُضَارِع لِتُمُولِهِ لِلْمُسْتَقْبَلِ وَلَيْسَ مُرَادًا وَلَا يَغْتَرُّ بِمَا لِبَعْضِهِمْ هُنَا. تَنْبِيةُ: النَّظَرُ وَالْفِكْرُ الْمُحَرَّكُ لِلشَّهْوَةِ كَالْقُبْلَةِ فَيَحْرُمُ وَإِنْ لَمْ يُفْطِرْ بِهِ


Hasyiyah al-Bajuri juz 1, hal. 292

حاشية الباجوري ج ۱ص ۲۹۲

وحرم نحو لمس كقبلة إن حرك شهوة لخوف الإنزال ، وإلا، فتركه أولى إذ يسن للصائم ترك الشهوات ، وإنما لم يحرم لضعف احتمال أداءه إلى الإنزال

Haram menyentuh seperti halnya mencium jikalau menyebabkan syahwat karena dikhawatirkannya keluar mani jikalau tidak maka meninggalkan syahwat lebih utama karena orang yang puasa disunnahkan meninggal syahwat, namun hukumnya tidak haram dikarenakan peluang keluarna mani itu sedikit.

Kitab Al-Majmu Syarh Al-Muhadzab juz 6, Hal. 354

المجموع شرح المهذب ج 6 ص 354

ومن حركت القبلة شهوته كره له أن يقبل وهو صائم والكراهة كراهة تحريم وان لم تحرك شهوته قال الشافعي فلا بأس بها وتركها أولي والاصل في ذلك ماروت عائشة رضى الله عنها قالت " كانرسول الله صلى الله عليه وسلم يقبل ويباشر وهو صائم ولكنه كان أملككم لاربه " وعن ابن عباس انه ارخص فيها للشيخ وكرهها للشاب ولانه في حق احدهما لا يأمن ان ينزل فيفسد الصوم وفى الاخر يأمن ففرق بينهما


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url