Ayah Bunda, pernah kepikiran nggak sih melihat perkembangan teknologi zaman sekarang yang melesat cepat banget? Di satu sisi, asyik ya, anak-anak jadi gampang banget belajar hal baru. Tapi di sisi lain, derasnya arus informasi ini bikin kita was-was.
Sering kali kita membatin: Bisa nggak ya anak kita nanti survive di dunia yang makin rumit ini? Bekal mereka udah cukup belum sih kalau nanti kita nggak selalu ada di samping mereka?
Wajar banget kok merasa cemas. Semua orang tua pasti ingin anaknya tumbuh jadi anak yang baik, mandiri, dan hidupnya penuh berkah. Nah, kabar baiknya, ada satu "senjata" andalan yang bisa kita siapkan dari sekarang: kemampuan literasi alias hobi membaca.
Anak yang doyan baca bakal lebih jago mencerna informasi, tahu mana yang positif dan mana yang harus di-skip. Mereka juga jadi lebih pintar memanfaatkan teknologi, bukan malah dikendalikan sama gadget. Karena itu, ngebangun budaya membaca di rumah adalah salah satu investasi terbaik untuk masa depan si kecil!
Islam dan Keistimewaan Membaca
Menariknya, nge-hits-nya budaya literasi ini bukan cuma tren pendidikan modern, lho. Dalam Islam, perhatian terhadap membaca itu udah ada sejak awal mula. Ingat kan, wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW justru dimulai dengan perintah membaca!
Allah SWT berfirman:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-'Alaq [96]: 1—5).
Imam Baghawi dalam tafsirnya menjelaskan hal ini dengan sangat indah:أَكْثَرُ الْمُفَسِّرِينَ: عَلَى أَنَّ هَذِهِ أَوَّلُ سُورَةٍ نَزَلَتْ مِنَ الْقُرْآنِ، وَأَوَّلُ مَا نَزَلَ خَمْسُ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِهَا إِلَى قَوْلِهِ: مَا لَمْ يَعْلَمْ
Artinya: “Mayoritas mufassir menyatakan bahwa ayat ini adalah surat Al-Qur'an pertama yang turun. Lima ayat pertama dari surat ini sampai ayat 'ma lam ya'lam'.” (Abu Muhammad Baghawi, Tafsirul Baghawi, jilid V, hlm. 279)
Ayat ini jadi bukti kuat kalau membaca dan menulis punya tempat yang sangat spesial dalam Islam. Imam Khazin juga ngasih pandangan yang super insightful:
وقيل يحتمل أن يكون هذا حثا على القراءة، والمعنى اقرأ وربك الأكرم لأنه يجزي بكل حرف عشر حسنات الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ أي الخط والكتابة التي بها تعرف الأمور الغائبة وفيه تنبيه على فضل الكتابة لما فيها من المنافع العظيمة لأن بالكتابة ضبطت العلوم، ودونت الحكم وبها عرفت أخبار الماضين، وأحوالهم وسيرهم ومقالاتهم ولولا الكتابة ما استقام أمر الدين والدنيا
Artinya: “Dikatakan bahwa ayat ini diarahkan pada anjuran membaca. Ayat 'yang mengajar manusi dengan pena' menunjukkan keistimewaan tulisan. Sebab dengan tulisan ilmu pengetahuan terjaga, hikmah terdokumentasi, dan sejarah orang-orang terdahulu dapat diketahui. Andaikan tidak ada tulisan, maka urusan agama dan dunia tidak akan tegak.” (Imam Khazin, Tafsirul Khazin, Jilid IV, hlm. 448).
Kesimpulannya? Mengenalkan buku ke anak itu sejalan banget sama nilai-nilai keilmuan dalam Islam!
Kapan Anak Mulai Dikenalkan Buku?
Jawabannya: sedini mungkin. Bahkan sejak si kecil masih di dalam perut, Ayah Bunda udah bisa lho mulai membacakan cerita.
Membacakan buku saat hamil itu bukan sekadar aktivitas membaca biasa, tapi bentuk bonding penuh cinta antara orang tua dan calon bayi. Manfaatnya juara:
Memberikan stimulus untuk tumbuh kembang anak.
Meningkatkan rasa ingin tahu.
Menanamkan mindset bahwa membaca itu asyik.
Melatih kemampuan mendengarkan dan mengingat.
Islam sendiri emang peduli banget sama fase sejak sebelum lahir. Buktinya, ibu hamil sering diberikan keringanan ibadah demi menjaga kesehatan dirinya dan si janin (seperti dijelaskan oleh Kiai Ahmad Ghazali Lanbulan dalam al-Jauharu al-Farid). Ini nunjukin kalau ngasih perhatian optimal ke anak itu memang harus dimulai sejak titik nol kehidupannya.
Baca juga : Mengapa Membaca Harus Jadi Gaya Hidup di Era Digital?
5 Tips Seru Membangun Budaya Membaca di Rumah
Gimana cara mulainya? Yuk, coba terapkan 5 hal simpel ini:
Hadirkan Buku di Sekitar Anak Nggak usah muluk-muluk bikin perpustakaan raksasa. Cukup sediakan buku-buku sesuai usianya dan taruh di tempat yang gampang diraih anak. Tujuannya simpel: biar mereka terbiasa lihat buku, penasaran, lalu mulai buka-buka gambar. Sebagai inspirasi, ulama besar seperti Imam Yahya bin Ma'in sampai meninggalkan warisan kitab sebanyak 114 qumthur (lemari) dan 4 hubb (kendi besar) penuh kitab, lho!
- Ayah Bunda Harus Jadi Role Model Anak itu peniru ulung. Kalau mau mereka suka baca, tunjukkan juga kalau kita enjoy baca buku. Ulama zaman dulu ngasih teladan keren banget soal ini. Ada Al-Jahizh yang pantang berhenti baca sebelum bukunya tamat, atau Al-Fath bin Khaqan dan Ismail bin Ishaq Al-Qadhi yang ke mana-mana selalu bawa dan merawat bukunya.
- Jadikan Rutinitas Harian Karakter nggak terbentuk dalam semalam. Awalnya mungkin anak harus diajak, tapi perlahan ini bakal jadi kebiasaan seru. Jangan cuma disuruh, tapi ajak ngobrol kenapa buku yang dia baca itu menarik.
- Kasih Apresiasi! Pas anak mulai ambil buku sendiri atau nanya-nanya isi cerita, langsung kasih pujian! Hal sesederhana ini bikin mereka merasa membaca adalah sesuatu yang bernilai. Khalifah Ma'mun pernah memuji anak yang cinta ilmu dengan kata-kata indah: "Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahi saya keturunan yang melihat dengan mata akalnya lebih banyak daripada apa yang ia lihat dengan mata kepalanya."
- Atur Screen Time (Penggunaan Gawai) Kita nggak bisa memusuhi gadget 100%, tapi aturannya harus ada. Jangan sampai kebiasaan baca tergeser karena main HP nggak kekontrol. Jadikan teknologi sebagai alat bantu belajar, bukan "majikan" yang menguasai waktu anak.
Kesimpulannya, ngebangun budaya baca di rumah itu memang butuh proses dan kesabaran ekstra. Nggak cukup cuma sekadar checkout buku di toko, tapi butuh menghadirkan suasana rumah yang dekat dengan ilmu.
Dengan keteladanan dan kesabaran Ayah Bunda, insyaallah rumah kita bakal jadi tempat pertama lahirnya para pembelajar hebat. Semoga Allah SWT senantiasa menjadikan anak-anak kita generasi yang cinta ilmu, dekat dengan buku, dan berakhlak mulia. Aamiin!

0Komentar