Poligami Tanpa Izin Istri

Bagaimana hukum poligami tanpa izin dari seorang istri, memandang lumrahnya istri pertama akan merasa sakit hati dan menimbulkan konflik dalam rumah tangga?

مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاع
 mungkin itulah alasan yang digunakan kaum lelaki untuk ber- poligami. Selain karena ada legalitas dari Alquran, hal itu memang terkadang menjadi sebuah kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi mereka. Namun, ironisnya, sering kali poligami yang mereka lakukan tanpa sepengetahuan atau izin dari istri pertama. Ada yang murni sembunyi-sembunyi. Ada pula yang terang-terangan berpoligami meskipun istri pertamanya melarang. Menurut mereka (kaum lelaki), yang penting dapat berlaku adil, maka izin dari istri pertama tidak lagi dibutuhkan.

Pertanyaan

Bagaimana hukum poligami tanpa izin dari seorang istri, memandang lumrahnya istri pertama akan merasa sakit hati dan menimbulkan konflik dalam rumah tangga?

Jawaban

Secara akad, poligaminya tetap sah. Karena dalam poligami, tidak disyaratkan harus adanya izin dari istri pertama. Namun sebaiknya sebelum berpoligami, sang suami memberikan pengertian yang lebih terhadap istri pertama. Karena umumnya, seorang istri memang tidak rela ketika dimadu.

Catatan

Suami diharamkan untuk poligami ketika dalam akad, istri pertama mensyaratkan untuk tidak berpoligami.

Referensi

أداب الاسلام في نظام الأسرة (۱۰۷) - لَمَّا بَعَثَ الله مُحمَّدًا خَاتَمَ النَّبِيَّيْنَ فِي الْعَرَبِ وَأَبْطَلَ شَرْعُهُ الزَّنَا وَكُلَّ مَا هُوَ فِي مَعْنَاهُ مِنْ أَنْوَاعِ الْأَنْكِحَةِ وَكُلَّ مَا هُوَ مَبْنِيٌّ عَلَى عَدَّ المَرْأَةِ كَالْمَتَاعِ أَوِ الْحَيَوَانِ الْمَمْلُوكِ لَمْ يُحَرِّمُ تَعَدُّدَ الزَّوْجَةِ تَحْرِيْمًا مُطْلَقًا - إلى أن قال - وَاشْتُرِطَ فِيهِ الْعَدْلُ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ أَوِ الْأَزْوَاجِ لِمَنْعِ مَا كَانَ مِنْ ظُلْمِ النِّسَاءِ بِقَدْرِ الْاِسْتِطَاعَةِ وَهُوَ مَا قَدْ يُفْضِي بِالْمُتَدَيِّنِ بِالْإِسْلَامِ الْمُتَمَسِّكِ بِالشَّرِيعَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ الْمُوَافِقِ عِنْدَ حُدُوْدِهَا إِلَى الْاِقْتِصَارِ عَلَى زَوْجَةٍ وَاحِدَةٍ إِلَّا لِصْرُوْرَةٍ إِذْ يَخَافُ الظُّلْمَ قَالَ تَعَالَى فِي سُوْرَةِ النِّسَاءِ (وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَنْ لَا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُوْلُوْا).

المغنى (٢٤٤/٧) - أَمَّا إِذْنُ الزَّوْجَةِ الْأوْلَى وَرِضَاهَا بِالَّتعَدُّدِ فَلا يُشْتَرَطُ وَلَا يَجِبُ عَلَى الزَّوْجِ اسْتِغْذَانُ الزَّوْجَةِ الْأُوْلَى لِلرُّوَاجِ بِثَانِيَةٍ. وَلَكِنِ الْمَشْرُوعُ لَهُ أَنْ يُطَيِّبَ خَاطِرَهَا ويُرَاضِيَهَا وَيَبْذُلَ لَهَا مِنْ مَالِهِ وَكَلَامِهِ مَا يُهْدِئُ مِنْ رَوْعِهَا وَيُخَفِّفَ غَيْرَهَا.

أداب الاسلام في نظام الأسرة (۱۱۱) - غَيْرَ أَنَّ تَعَدُّدَ الزَّوْجَاتِ بِالنِّسْبَةِ لِلزَّوْجَةِ الْأَوْلَى فَالْغَالِبُ فِيْهِ أَنَّهُ لَا يَكُونُ بِرِضَائِهَا وَلِذَلِكَ كَانَ لَهَا الْحَقُّ عِنْدَ عَقْدِ الزُّوَاجِ أَنْ تَشْتَرِطَ لِنَفْسِهَا حَقَّ الطَّلَاقِ فِي حَالَةِ إِقْدَامِ زَوْجِهَا بِدُوْنِ مُوَافَقَتِهَا.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url