Tafsir Nur Ihsan Pdf

Tafsir Nur Ihsan
Kajian mengenai kitab-kitab tafsir yang berasal dari tingkat lokal seringkali tidak mendapat sorotan yang memadai dalam lingkungan masyarakat. Kurangnya pembahasan terhadap hal tersebut dapat mengakibatkan kontribusi ulama-ulama setempat dalam bidang tafsir seringkali terabaikan. Untuk menjaga keberlanjutan dan keberagaman ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh ulama-ulama lokal, terutama mereka yang berasal dari rumpun Melayu, penting untuk mengenalkan kembali kitab-kitab tafsir lokal.

Salah satu contoh kitab tafsir lokal yang patut diperkenalkan adalah "Tafsir Nurul Ihsan," sebuah karya ilmiah yang ditulis oleh seorang ulama dari wilayah Melayu. Dengan memperkenalkan kembali kitab tafsir ini, kita dapat berkontribusi dalam mempertahankan warisan keilmuan ulama-ulama setempat.

Deskripsi kitab Tafsi Nurul Ihsan

Tafsir Nurul Ihsan adalah sebuah karya tafsir Al-Quran yang komprehensif, melibatkan interpretasi seluruh 30 juz, dimulai dari surah Al-Fatihah hingga Al-Nas. Tafsir ini terbagi ke dalam empat jilid; jilid pertama membahas tafsir surah Al-Fatihah hingga Al-Ma'idah, jilid kedua mengupas surah Al-An'am hingga Al-Isra', jilid ketiga membahas surah Al-Kahfi hingga Az-Zumar, dan jilid keempat membahas surah Ghafir hingga Al-Nas.

Dalam penulisannya, penulis Tafsir Nurul Ihsan mengawali setiap bab dengan memberikan konteks seputar waktu turunnya surah tersebut, kemudian mengelompokkan apakah surah tersebut termasuk kategori Makiyah (turun di Makkah) atau Madaniah (turun di Madinah). Informasi ini kemudian disajikan secara terperinci di bawah nama setiap surah yang dibahas.

Tetapi, terdapat keunikan ketika merujuk pada jumlah ayat dalam Tafsir Nurul Ihsan. Dalam konteks ini, saat mengkategorikan surah-surah sebagai makiyah atau madaniah, penafsir menyertakan jumlah ayat di bawahnya. Sebagai contoh, dalam surah Al-Baqarah, jumlah ayatnya disebutkan sebagai "dua ratus delapan puluh enam atau tujuh." Namun, tidak ada penjelasan tambahan mengenai alasan di balik perbedaan atau variasi jumlah ayat, apakah dua ratus delapan puluh enam atau dua ratus delapan puluh tujuh.

Pendekatan penafsiran yang digunakan adalah dengan menggabungkan secara langsung terjemahan dan penafsiran. Penafsir menerjemahkan dan menafsirkan secara bersamaan tanpa memisahkan antara bagian terjemahan dan tafsir. Oleh karena itu, ada yang berpendapat bahwa karya ini dapat dikategorikan sebagai kitab terjemah tafsiriyah.

Baca juga : Tafsir Mawardi atau an-Nukat Wal Uyun

Latar belakang penulisan

Zulkifli Haji Mohd Yusoff (hal. 79) menyampaikan bahwa motivasi utama di balik penulisan kitab tafsir ini adalah permintaan dari teman-teman dan dorongan dari pemerintah pada waktu itu. Kemungkinan besar, faktor ini membuat kitab tafsir tersebut memiliki kecenderungan nuansa politik.

Selain itu, penulisan kitab tafsir ini didorong oleh izin yang diperoleh dari seorang ulama besar di negaranya, yakni Syekh Sulaiman. Izin tersebut menjadi salah satu motif utama bagi Zulkifli Haji Mohd Yusoff dalam menulis kitab tafsirnya. Proses penulisan tafsir ini dimulai pada tahun 1344 H/1926 M dan berhasil diselesaikan pada tahun 1346 H/1927 M.

Profil singkat penulis

Nama lengkapnya adalah al-Alim Al-Fadhil al-Hajj Muhammad Sa’id bin Umar Qadhi Jitra al-Qadhi. Ada perbedaan pendapat mengenai tahun kelahirannya, dengan beberapa sumber menyebutkan tahun 1270 H/1854 M, di Wan Saghir, Malaysia, beliau lahir pada tahun 1275 di Kampung Kuar. Secara umum, kelahiran beliau dapat ditempatkan dalam kisaran tahun 1270an H.

Muhammad Sa’id adalah anak dari Umar Khatib, seorang ayah yang taat beragama dan dihormati sebagai seorang Khatib, yang merupakan ahli khutbah dan pemuka agama di masyarakat setempat. Peninggalan ini tercermin dalam minat dan dedikasinya terhadap agama, yang membawanya untuk menulis kitab tafsir. Dalam aspek ibadah, beliau mengikuti mazhab Syafii dalam fikih dan mengamalkan aliran Tarikat Naqsabandi al-Ahmadi.

Pemberian gelar ‘Qadhi’ pada namanya menunjukkan bahwa beliau pernah menjabat sebagai Qadhi menjelang akhir hidupnya, mungkin ketika usianya mencapai 75 tahun. Menurut tulisan Amran Bin Abdul Halim, dkk, pada akhir hayatnya, beliau mengalami penyakit lumpuh di salah satu sisi tubuhnya. Kematian Muhammad Sa’id tercatat pada hari Rabu setelah shalat Ashar pada tahun 1932 M. Beliau dikebumikan di Masjid Alur Merah, Alor Setar, Kedah.

Metode Penafsiran

Penafsiran ini menerapkan pendekatan ijmali, suatu metode dalam menafsirkan Alquran yang menyoroti makna secara menyeluruh dengan mengikuti urutan mushaf Utsmani. Penulis tafsir tidak terpaku pada satu pendekatan tertentu. Terkadang ia mengadopsi pendekatan fikih, kadang-kadang filsafat, tasawuf, dan lain-lain, tergantung pada konteks ayat yang sedang dibahas. Bahasa yang digunakan dalam penafsiran ini adalah Arab-Melayu.

Download Kitab

Nama Kitab : Tafsir Nurul Ihsan

Penyusun : al-Alim Al-Fadhil al-Hajj Muhammad Sa’id bin Umar Qadhi Jitra al-Qadhi

Download : Jilid 1  | Jilid 2 |  Jilid 3 | Jilid 4


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url